Selasa, 24 September 2019

Gerakan mahasiswa tertidur? Mengapa dan Sampai Kapan?

sumber: http://suciwuland.blogspot.com

Mahasiswa adalah agent of change, social control dan iron stock. Itulah kata-kata yang sering kali diucapkan “kakak-kakak” di kampus kepada mahasiswa baru pada saat masa orientasi atau yang biasa kita kenal dengan istilah ospek.  Ungkapan tersebut memang tidak salah karena di negeri ini beberapa peristiwa bersejarah berawal dari gerakan mahasiswa di Indonesia. Sebut saja peristiwa seperti kelahiran Budi Utomo, Sumpah Pemuda, Peristiwa Malari, dan Reformasi 1998 tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan mahasiswa.

Saking besarnya pengaruh gerakan mahasiswa terhadap jalannya pemerintahan, pemerintah orde baru melalui Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus (NKK/BKK) mencoba untuk mematikan daya kritis mahasiswa. Kebijakan NKK/BKK berlaku resmi setelah Mendikbud Daoed Joesoef mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 0156/U/1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus yang menyebabkan aktivitas politik tidak boleh dilakukan di dalam kampus. Puncaknya ialah pada reformasi 1998 ketika jutaan mahasiswa tumpah ke jalanan ibu kota dan menduduki gedung MPR yang “berhasil” membuat rezim orde baru yang sudah berkuasa selama 32 tahun akhirnya tumbang.

Kini setelah 21 tahun reformasi, gerakan mahasiswa seolah seperti sedang tertidur. Dibukanya keran demokrasi dan kebebasan berpendapat tidak lantas membuat mahasiswa saat ini “seganas” para penerusnya. Bahkan banyak sindiran yang ditujukan kepada mahasiswa saat ini. Ungkapan seperti “mahasiswa sekarang beda dengan yang dulu”, “mahasiswa sekarang sudah tidak peduli rakyat”, “mahasiswa sekarang sibuk kuliah”, bahkan yang terbaru yakni “mahasiswa sekarang sibuk main PUBG” sering kali terdengar oleh mahasiswa baik dilontarkan oleh sesama mahasiswa, dosen, atau masyarakat.

Ungkapan-ungkapan tersebut pun tidak ada salahnya. Gerakan mahasiswa saat ini seolah sedang “tertidur”. Namun kesalahan tidak bisa dilimpahkan sepenuhnya kepada mahasiswa. Faktor-faktor internal maupun eksternal harus ditelaah lebih dalam sebab terkait fenomena “tidurnya mahasiswa” tidak jarang malah menghakimi mahasiswa dan menyalahkan mahasiswa terkait kondisi negara yang tidak stabil saat ini.

Dari segi faktor internal, tak jarang bahkan hampir semua mahasiswa berkeinginan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik setelah lulus. Jarang ditemui orang yang ketika berada dibangku SMA atau sederajat memiliki keinginan untuk ikut terlibat dalam gerakan mahasiswa. Hampir sebagian besar mereka melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik, terutama dari segi intelektual dan finansial. Bahkan bagi sebagian mahasiswa yang sudah terjun ke dalam gerakan mahasiswa, ketika berada di tingkat/semester akhir mereka harus realistis untuk memikirkan kehidupan selanjutnya.

Sebagai seorang anak, mahasiswa juga memiliki kenginan untuk membanggakan orang tuanya, baik yang masih ada maupun yang sudah tidak ada. Caranya dengan berprestasi, baik dari segi akademik maupun nonakademik yakni dengan cara memenangkan perlombaan, mendapatkan IPK yang dianggap bagus orang tua, atau menjadi fungsionaris organisasi kemahasiswaan. Hal tersebut membuat mahasiswa mengesampingkan keterlibatannya dalam gerakan mahasiswa.

Faktor internal terakhir yang dirasa paling berpengaruh terhadap tertidurnya gerakan mahasiswa yakni mahasiswa merasa bahwa kehidupan saat ini jauh lebih baik dibandingkan zaman dahulu, khususnya sebelum reformasi. Mahasiswa saat ini bisa hidup lebih bebas, baik berkumpul, berpendapat, bahkan menggunakan sosial media tanpa tekanan yang didapat mahasiswa pada zaman dulu. Mau tidak mau hal tersebut menimbulkan dampak negatif yakni membuat mahasiswa semakin “terlena” dengan kebebasan yang ada saat ini.

Selain faktor internal atau dari dalam mahasiswa itu sendiri, terdapat pula faktor eksternal atau di luar mahasiswa. Gerakan mahasiswa yang sedang tertidur saat ini tidak bisa dilepaskan dari para aktivis pendahulu yang saat ini banyak yang sudah tak seidealis dahulu, bahkan kehilangan idealismenya. Para aktivis yang dulu merupakan mahasiswa yang berjuang bersama rakyat kini bertransformasi menjadi segelintir elit yang sibuk dengan kepentingannya masing-masing. Tak jarang hal tersebut membuat banyak mahasiswa yang nyir-nyir terhadap sesama mahasiswa yang terlibat ke dalam gerakan mahasiswa. Ungkapan seperti “proletar sampai kaya” atau “mahasiswa proletar, sudah lulus borjuis” kerap kali di-nyirnyir-kan kepada mahasiswa yang terlibat gerakan mahasiswa.

Kondisi tersebut didukung oleh sistem pendidikan tinggi saat ini yang menuntut mahasiswa agar bisa lulus cepat. Alasannya klasik, yakni meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Ditambah dengan sistem akreditas yang membuat kampus berlomba-lomba mendorong mahasiswa-mahasiswanya yang sudah terlalu lama menghuni kampus. Kampus tidak lagi berupaya untuk mengaplikasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, namun kampus asyik berlomba memperoleh akreditas yang baik, sekadar memenuhi hasrat menjadi kampus unggulan. Singkatnya masa studi yang saat ini kurang lebih 4 tahun membuat kurikulum tiap semesternya padat. Akibatnya mahasiswa tidak memiliki waktu yang banyak di luar menjalankan kewajiban akademiknya. Belum lagi tugas dan praktikum yang juga cukup menyita waktu. Sehingga mahasiswa tidak memiliki waktu untuk terlibat gerakan mahasiswa kecuali mereka yang mau mengorbankan “waktu lulus dan prestasi akademik”. Rasanya tidak banyak mahasiswa yang siap akan hal tersebut.

Berbicara mengenai kuliah, rasanya tidak bisa dilepaskan dari biaya pendidikan. Biaya kuliah yang tidak sedikit memotivasi mahasiswa untuk segera lulus dengan harapan tidak ingin membebankan orang tua. Tidak ada salahnya memang. Meskipun di beberapa perguruan tinggi, khususnya di Perguruan Tinggi Negeri menerapkan sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) dengan kategori berdasarkan kemampuan ekonomi orang tua mahasiswa, namun dibutuhkan juga biaya lain untuk mendukung perkuliahan, sepert biaya sewa kost, makan, operasional, belum lagi generasi milenial saat ini yang tidak bisa dilepaskan dari yang namanya gadget, membuat kebutuhan akan quota internet harus selalu terpenuhi. Belum lagi bagi mahasiswa yang aktif di kampus tak jarang harus merogoh kocek lebih dalam yang merupakan resiko pribadi atas terlibatnya di kegiatan kampus.

Telah disebutkan di atas bahwa setiap mahasiswa tentu ingin membanggakan orang tuanya. Bagi mereka yang terlibat ke dalam gerakan mahasiswa, meskipun jika melihat dari sejarah bahwa gerakan mahasiswa berdampak besar terhadap bangsa, namun rasanya jarang sekali orang tua, saudara, atau tetangga yang bangga terhadap mahasiswa yang aktif di gerakan mahasiswa. Terlebih jika gerakan tersebut cenderung mengorbankan waktu kelulusan dan prestasi akademik. Kebanyakan malah nyir-nyiran, hujatan, dan omongan tak sedap yang didapatkan. Meskipun sudah mengorbankan waktu kelulusan dan prestasi akademik, mereka juga mendapat stigma negatif sebagai mahasiswa yang tidak serius untuk kuliah.

Kondisi zaman dulu dengan sekarang pun berbeda. Zaman dulu mahasiswa dipersatukan oleh musuh bersama yakni ketidakadilan. Namun kini, musuh bersama tersebut seolah tidak terlihat atau bahkan tidak ada. Belum lagi dunia kampus yang diwarnai oleh politik organisasi ekstra kampus yang membuat mahasiswa terkotak-kotak berdasarkan ideologi dan organisasinya. Hal tersebut mahasiswa lebih fokus untuk memperoleh kedudukan strategis di organisasi intra kampus, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa, Badan Perwakilan Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa, dan lain sebagainya. Mahasiswa mengganggap kelompok mahasiswa lain sebagai saingan di kampus, bukan sebagai mitra melawan ketidakadilan.

Di tengah carut-marut kondisi bangsa dan keraguan terhadap mahasiswa, kini gerakan mahasiswa perlahan mulai bangun. Gerakan mahasiswa yang tertidur sejak bergulirnya reformasu 1998, kini menampakkan tanda-tanda bahwa akan kembali bangkit. Pelemahan terhadap KPK melalui RUU KPK dan RKUHP yang memuat banyak sekali pasal yang dianggap kontroversial membuat mahasiswa turun ke jalan baik di ibu kota maupun di daerah lainnya. Musuh bersama tersebut akhirnya muncul ke permukaan yang tidak lain dan tidak bukan adalah pemerintah dan DPR.

Hal tersebut menjadi jawaban terkait tertidurnya gerakan mahasiswa. Tidak dibenarkan bahwa mahasiswa saat ini tidak peduli dengan rakyat, berbeda dengan mahasiswa dulu atau terlalu sibuk main PUBG. Karena pada akhirnya mahasiswa akan turun ke jalan jika kondisi bangsa sedang darurat dan jika mahasiswa sudah turun ke jalan, maka kondisi bangsa sedang darurat. Semoga kondisi bangsa yang darurat tersebut tidak berlangsung lama dan semoga kejadian seperti di tahun 1998 tidak terjadi kembali.

Jadi pada intinya, kapan mahasiswa bangun? Mahasiswa akan bangun jika kondisi bangsa sedang darurat dan mahasiswa memiliki musuh bersama.

Selasa, 04 Juli 2017

Sisi Lain Unpad dan Jatinangor

kampusaja.com

Banyak yang bilang, kampus ini merupakan kampus terfavorit se-Indonesia. Tiap tahun selalu terdepan dalam hal jumlah peminat. Pun dengan tahun ini (2017) yang juga menempati posisi pertama (lagi) dalam hal jumlah peminat pada Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru. Entah memang mereka beranggapan kampusku ini berkualitas atau memang karena sadar akan realitas sulitnya menembus Si Jaket Kuning dan Si Jaket Abu. 

Tulisan ini saya buat sebagai curahan hati, dari seorang manusia biasa yang "masih" berstatus sebagai Mahasiswa di kampus berlambang kujang yang terletak di Jatinangor. Melihat dan merasakan berbagai macam keresahan yang dialami selama kurang lebih 2 tahun kuliah. Tak bisa disalahkan jika sebagian nantinya berpikir bahwa saya hanya menjelek-jelekkan almamater sendiri. Lebih dari itu, ada maksud mulia dibalik tulisan ini. Saya tidak ingin ada calon adik-adik yang nanti ketika kuliah menyesal telah memilih kampus terfavorit ini. Sebuah harapan, semoga tulisan ini bisa memberi sedikit pencerahan bagi sekalian alam. 

Selamat bernalar wahai makhluk berakal. 

Jumat, 15 Juli 2016

Kos-Kosan di Jatinangor


Sebelumnya saya mau mengucapkan selamat dulu untuk temen-temen yang keterima di PTN (walaupun telat) baik melalui jalur SNMPTN maupun SBMPTN. Untuk temen-temen yang keterima kuliah di Unpad dan mau ngekos, tentunya banyak yang bingung juga dikarenakan belum terlalu hafal daerah Jatinangor. Daerah Jatinangor sendiri gak luas-luas amat, dan gak sempit-sempit amat. Maklum namanya juga kecamatan.

Di postingan kali ini saya mau berbagi artikel tentang kos-kosan di Jatinangor, syukur-syukur bisa membantu temen-temen yang sedang membutuhkan.




Kos-kosan di Jatinangor sendiri tersebar, jadi gak usah takut kehabisan atau gak kebagian kosan. Untuk harga mulai dari 5 juta sampai 20-an juta, tergantung fasilitas yang kita inginkan. Untuk kos-kosan dengan kamar mandi dalam dengan lokasi dekat kampus sudah bisa didapat mulai dari harga 6jt-an. Langsung aja saya mau bahas daerah-daerah yang ada di maps. Yang pertama.

Sabtu, 25 Juni 2016

Tips Memilih Kos-Kosan di Jatinangor

Jatinangor merupakan sebuah Kecamatan yang terletak di Kabupaten Sumedang. Daerah ini terkenal karena menjadi pusat pendidikan, khususnya Pendidikan Tinggi. Tercatat beberapa Perguruan Tinggi berada di daerah ini, yaitu Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, Institut Koperasi Indonesia, dan Institut Pendidikan Dalam Negeri.
            Banyaknya kampus di Jatinangor membuat kebutuhan atas tempat tinggal mahasiswa semakin tinggi, baik berupa kos-kosan, apartemen, atau rumah. Di post ini saya akan membagi beebrapa tips yang saya dapat dari pengalaman saya dan beberapa teman, yang diharapkan dapat membantu teman-teman pembaca dalam memilih Kos-Kosan di Jatinangor.


1.        Jarak ke Kampus

sumber: hypersonic55.wordpress.com
kasi kos-kosan harus dipertimbangkan dengan matang, terlebih bagi kamu yang merupakan maba (mahasiswa baru) karena pada saat Masa Orientasi, mahasiswa tidak diperkenankan untuk membawa kendaraan sehingga apabila tempat kos dekat dengan kampus, maka akan memudahkan masa awal kuliah. Selain itu juga akan menghemat ongkos, bensin, energi dan yang paling utama adalah menghemat waktu.

Rabu, 13 Januari 2016

Tipe-Tipe Mahasiswa

Tipe Mahasiswa

Bagi kamu yang udah kuliah tentunya akan merasa bangga, senang, dan percaya diri ketika ditanya pekerjaan kamu. “Mahasiswa” satu-satunya pekerjaan yang pake gelar maha, bahkan dosen pun tidak ada gelar Maha Dosen atau Maha Guru.

Setiap mahasiswa tentunya memiliki karakter dan perilaku yang berbeda-beda. Namun dari perbedaan tersebut ada kecenderungan yang sama sehingga saya dapat mengelompokkan mahasiswa ke dalam beberapa tipe melalui riset dan penilitian yang saya lakukan dan tentunya penelitian ini tidak dapat dipertanggungjawabkan hehehe.

Beberapa mungkin pernah kamu lihat mahasiswa seperti ini, atau jangan-jangan kamu merupakan salah satunya. Bagi sodara-sodara yang belum kuliah, percaya gak percaya ketika keliah nanti bakal nemuin tipe-tipe mahasiswa seperti ini.

Rabu, 23 Desember 2015

Berbagi Cerita Seputar SBMPTN

Berbagi Cerita Seputar SBMPTN

Setelah sekian lama menghilang dari dunia perblogan, akhirnya gue bisa menyempatkan waktu lagi untuk menulis. Kali ini gue mau kasih tips dan berbagi kisah, terutama buat dulur-dulur yang lagi berjuang melawan SBMPTN.

Walaupun SBMPTN masih lumayan lama, tapi gak ada salahnya kalau kalian melakukan persiapan dengan sangat matang. Perlu diingat juga ya untuk bisa lolos SBMPTN, tingkat intelegensi seseorang gak bisa dijadikan tolak ukur mutlak. Hal lainnya yang sangat penting adalah stretegi. Semoga postingan ini bisa berguna buat elo-elo terutama yang mau menghadapi SBMPTN.

1.     Persiapkan dari jauh-jauh hari
Walaupun SBMPTN masih lumayan lama, tapi persiapan yang matang akan lebih membantu kalian. Walaupun banyak temen-temen gue sendiri yang mempersiapkan SBMPTN Cuma 1 bulan, bahkan ada yang gak punya persiapan apa-apa tapi bisa lolos. Tapi yang paling penting untuk mempersiapkan dari jau-jauh hari karena materi yang diujikan dari kelas 1 – 3 SMA, dan soal yang keluar pun gak bakalan bisa ditebak, gak bakalan ada prediksi soal yang 100% sama.  Jadi mau gak mau paitnya harus nguasai materi dari kelas 1 – 3 SMA.

2.      Belajar jangan lama-lama, tapi sering
Untuk masalah yang belajar, menurut gue terlalu lama pun gak baik karena bakalan bikin otak pusing dan mood pun malah jadi jelek. Yang penting adalah kontinuitas dalam belajar. Waktu gue mau SBMPTN, paling lama belajar dalam 1 hari Cuma 2 jam. Tapi gue lakuin terus-menerus hamper tiap hari. Karena dengan sedikitnya materi yang masuk ke otak dalam sehari, beban pikiran gak bakal terlalu banyak dan materinya bisa dicerna dan diingat dengan mudah.

Kamis, 15 Oktober 2015

Kuliah : Realita vs FTV



http://www.rhl.org 
Zaman sekarang sering banget FTV menampilkan kehidupan anak kuliah, namun kalau diperhatikan ceritanya sangat jauh dengan kehidupan nyata para mahasiswa. Kalau diceritakan yang sebenarnya tentang kehidupan anak kuliah, sedih pokoknya. Di post ini, gue mau berbagi pengalaman perbedaan kehidupan mahasiswa yang sebenernya dengan kehidupan mahasiswa di FTV.

1.      Kuliah di FTV sebagian besar menampilkan kehidupan percintaan mahasiswa
Hal ini memang gak bisa dipungkiri lagi. Dari awal sampai akhir film, sebagian besar menceritakan perjuangan seorang laki-laki untuk bisa bersama seorang perempuan yang dia suka. Padahal kenyataannya, kehidupan percintaan mahasiswa tidaklah sedominan yang ditampilkan di FTV, bahkan nyaris beberapa mahasiswa (termasuk gue) tidak mengalami kehidupan percintaan di kampus (kasian banget).

Senin, 14 September 2015

Prabu Unpad Hari ke 3


Di hari ke 3 ini, acaranya menurut gue seru banget dan bakal nyesel kalo dilewatkan. Berbeda dengan hari sebelumnya, hari ini para maba tidak berkumpul di GOR Jati melainkan para maba langsung berkumpul di prodi / jurusan yang telah diberitahukan pada hari sebelumnya. Kebetulan gue dapet prodi Teknologi Industri bagian dari Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP).

Jam 7 pagi gue kumpul sama temen-temen yang lainnya di gedung FTIP. Setelah itu para maba diabsen kurang lebih 15-20 menit. Setelah pengabsenan kita diberi tahu tentang agenda pada hari ini yaitu kita bakalan mengunjungi salah satu desa di sekitar Unpad. Kebetulan gue kebagian Desa Cipacing. Lokasinya lumayan jauh tapi untungnya kita disediakan transportasi yaitu Truk untuk laki-laki dan mobil untuk perempuan. Di sini kadang saya merasa sedih.

Rabu, 09 September 2015

PRABU 2015 (Hari Ke-2)



Setelah tertunda kurang lebih 2 minggu, akhirnya gue bisa melanjutkan cerita tentang ospek gue di kampus. Di hari ke dua ini gue tetep harus dateng pagi yaitu jam 6 dan tetep kita para maba diteriak-teriakin oleh senior bagian keamanan / kedisiplinan, tapi gue juga ngerasa manfaatnya dibentak dan diteriakin gini yaitu supaya kita para maba bisa lebih sigap dan lebih cepat sampai di GOR Jati. Sesampainya di GOR Jati, gue langsung baris sama kelompok gue yaitu kelompok 15. Acara di hari ke dua ini yaitu Student Day. Di sini kami diperkenalan dengan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang ada di Unpad. Acara dimulai dengan talk show dan diskusi dengan mahasiswa Unpad yang berprestasi, baik di bidang akademik maupun non akademik.

Berikut daftar UKM yang ada di Unpad :

  • Unit Perisai Diri Unpad (PD)
  • Unit Merpati Putih Unpad (MP)
  • Unit Kempo Unpad
  • Unit Judo Unpad (UJU)
  • Unit Karate Unpad (UKU)
  • Unit Tae Kwondo Unpad (UTKDO)
  • Unit Catur Mahasiswa Unpad (UCMU)
  • Unit Bridge Unpad
  • Unit Tenis Lapang Unpad (UTU)
  • Unit Tenis Meja Unpad (UTMU)
  • Unit Renang Unpad (URU)
  • Unit Hockey Unpad (UHU)
  • Unit Soft Ball & Base Ball Unpad
  • Unit Sepak Bola Unpad (USBU)
  • Unit Bola Basket Unpad (UBBU)
  • Unit Bola Volley Unpad (UBVU)
  • Unit Bulu Tangkis Unpad (UBTU)
  • Unit Palawa Unpad
  • Unit Search and Rescue (SAR)
  • Korp Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR PMI)
  • Unit Menwa Yon II Unpad
  • Unit Pramuka Unpad
  • Unit Sadaluhung Padjadjaran de Corps (SPDC)
  • Unit Paduan Suara Mahasiswa (PSM)
  • Korp Protokoler Mahasiswa (KPM)
  • Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales (AIESEC)
  • English Speaking Union (ESU)
  • Koperasi Mahasiswa Unpad (Kopma)
  • Lingkung Seni Sunda (LISES)
  • Unit Fotografi (Spektrum)
  • Gelanggang Seni Sastra, Teater dan Film (GSSTF)
  • Unit Pencinta Budaya Minangkabau (UPBM)
  • Lembaga Pengkajian dan Pengabdian Masyarakat Demokratis (LPPMD)
  • Capoeira Luanda
  • Aikido Unpad Dojo
  • Padjadjaran Intelectual Research (PIR)
  • Forum Komunikasi Dakwah Islam Fakultas (FKDF)
  • International Association of Students in Agricultural and Related Sciences (IAAS) Local Committee Unpad
  • Lembaga Dakwah Kampus DKM Universitas Padjadjaran


Banyak banget kan? Kami juga para maba diberi gambaran kegiatan dari semua UKM. Perwakilan dari tiap-tiap UKM melakukan semacam parade dihadapan para maba sambil menggenakan pakaian dan membawa peralatan yang digunakan dalam kegiatan mereka. Selain UKM, ada juga dari masing-masing fakultas.
Kira-kira jam 1 siang (detailnya gue lupa) maba dibebaskan untuk jalan-jalan di sekitar GOR Jati untuk melihat dan mengunjungi semua stand UKM dan fakultas yang ada. Kita juga bisa daftar pada hari tersebut.
Nah kira-kira seperti itu gambaran hari ke 2 Prabu Unpad. Di post selanjutnya gue akan ceritakan hari ke 3. Terimakasih sudah membaca.




Selasa, 08 September 2015

PRABU 2015 (Hari Pertama)



Halo guys gue mau berbagi pengalaman tentang ospek di kampus gue yaitu UNPAD. Ospek di kampus gue namanya PRABU (Prosesi Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Padjadjaran) dari namanya aja kedengerannya udah keren dan gagah. Prabu ini dilaksanakan pada tanggal 20, 21, 22 dan 24 Agustus 2015.
Semua Maba (Mahasiswa Baru) yang disebut Pramuda (cowok) dan Pramudi (cewek) diharuskan datang jam 6 pagi. Tapi tetep aja penyakit dari zaman dulu selalu ada yang ngaret alias telat. Bahkan ada juga yang dating jam 7 pagi. Sedikit cerita dari temen gue yang rumahnya di Cimahi, dia jam 6 baru berangkat dari pangkalan bis explore. Oh ya di Prabu ini semua Maba ga boleh bawa kendaraan, jadi yang rumahnya agak jauh (Cimahi, Padalarang, Soreang, dll) wayahna dating nyubuh.